Dimana langkah jejak ku selalu di iringi nyanyian merdu!!!

PSS
adalah nama tim sepak bola dari salah satu kabupaten di Provinsi DIY,
Sleman. PSS Sleman bukan sebuah nama yang asing bagi saya, karena sejak
lahir 15 tahun lalu saya sudah hidup dan menetap di KLATEN, tepatnya di
kelurahan KARANGAN, kecamatan KARANGANOMK. Sekarang ini saya tercatat
sebagai Pelaar di salah satu sekolah menegah pertama di klaten.
Awalnya
saya bukanlah seorang pecinta bola, hanya mengetahui bahwa yang sedang
disiarkan di TV itu klub dari daerah A. Saya adalah seorang gadis remaja
biasa yang lebih menyukai ketenangan dibandingkan ingar bingar suasana
stadion. Saya lebih suka membaca buku atau menulis cerita fiksi
dibanding menonton bola di TV. Intinya, saya hanya remaja biasa yang
lebih suka menghabiskan uang untuk membeli novel atau bacaan lainnya.
Saat
saya SD sekitar tahun 2009, teman-teman lelaki saya sering sekali
membicarakan tentang tim sepak bola dari Kota Jogja, Sleman dan Bantul.
Saya heran, kenapa harus ada 3 tim sepak bola padahal ketiganya berada
di satu provinsi yang sama? Bukankah hanya memboroskan pengeluaran
daerah? Saya bisa berfikir seperi itu karena guru saya pernah mengatakan
bahwa ada yang namanya APBD—Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah—yang
salah satunya digunakan untuk membiayai klub sepak bola suatu daerah.
Dari
obrolan teman-teman dan berita-berita yang saya dengar, PSS Sleman
adalah tim sepak bola yang mempunyai prestasi bagus, tetapi sayangnya
suporter mereka saat itu sering sekali tawuran. Hal itulah yang membuat
saya mepunyai pandangan negatif kepada PSS Sleman. Tidak hanya
berpandangan negatif, bahkan saya pun membenci dan antipati terhadap PSS
Sleman. Saya sering mencemooh teman-teman saya yang menyukai PSS
Sleman. *mbiyen lho iki, maaf PSS, ampuni saya
Tapi
itu adalah saya yang dulu. Saya kini pecinta bola, saya mencintai tim
sepak bola lokal daerah saya: PSS Sleman. Kenapa? Padahal dulu saya
adalah orang membenci mereka. Begini kronologinya:
Pada
hari Jum’at tanggal 8 Maret 2017, teman saya mengajak saya untuk
menemaninya ke Stadion Maguwoharjo untuk menonton laga uji coba antara
PSS Sleman vs Persiba Bantul tanggal 9 Maret 2013 pukul 19.00 WIB. Saya
yang tidak menyukai PSS Sleman awalnya menolak, tapi teman saya
bersikukuh mengajak saya dan akhirnya saya menerima ajakannya.
Keesokan
harinya, pukul 18.09 saya baru berangkat dari rumah menuju Stadion
Maguwoharjo dengan setengah hati. Dalam pikiran saya, bagaimana jika
nanti suporter kedua tim tawuran? Saya sudah membayangkan hal-hal jelek
selama perjalanan itu. Sesampainya di stadion, teman saya mengajak saya
ke tribun utara, dimana tribun tersebut digunakan oleh Slemania untuk
mendukung PSS. Saya yang tidak menyukai suporter itu mencoba untuk
menjaga jarak dari mereka dan saya duduk dekat pintu. Pikir saya, jika
ada sesuatu yang terjadi akan lebih mudah dan cepat keluarnya. hehehe..
Pukul
19.00 peluit kick off babak pertama berbunyi, dan saat itu juga
pandangan saya tertuju pada tribun diseberang saya. Disana ada lautan
manusia yang notabene memakai baju hitam. Mereka berdiri dan saya
tertegun, sejak peluit berbunyi sampai wasit kembali membunyikan peluit
tanda berakhinya babak pertama, lautan manusia itu selalu berdiri dan
mereka menyanyikan lagu-lagu pembangkit semangat untuk tim PSS Sleman.
Ada satu lagu yang saya suka saat pertama kalinya saya menyaksikan
mereka:
“Ku
lihat, ku dukung ku banggakan.. hanya satu, hanya Super Eljaku.. jangan
ragu, kami slalu mendukungmu, satukan tekadmu, jadi nomer satu.”
Saya
merasakan euforia kebanggaan mereka. Dan selama 2 x 45 menit
pertandingan berlangsung, mereka tetap berdiri dan bernyanyi dengan
semangat. Saya pernah mendengar tentang Brigata Curva Sud, suporter PSS
Sleman yang bercermin dari supoter Italy. Tapi baru sekali saya lihat
sendiri, dan pandangan saya langsung berubah terhadap PSS Sleman.
Mungkin saya terkena virus love at first sight—cinta pada pandangan pertama.
Sejak
saat itu, saya bergabung dalam lautan manusia ditribun selatan yang
menamakan diri mereka Brigata Curva Sud. Dalam setiap laga home PSS Sleman saya selalu hadir dan menyanyikan chant yang membangkitkan semangat mereka. Saya mulai mengenal komunitas-komunitasnya dan saya mencintai mereka!
Kini,
saya bisa mengatakan bahwa saya mencintai PSS Sleman dan para
suporternya—Slemania dan Brigata Curva Sud—dan sejak 8 Maret 2013, saya
memiliki beberapa prinsip baru dalam hidup saya: NO TICKET NO GAME dan
berani boros untuk PSS Sleman!
Selama saya berada ditribun selatan, saya baru 1 kali mengikuti laga away PSS Sleman. Saat itu PSS Sleman dijadwalkan away melawan Persemalra Maluku Tenggara dikandang Persemalra di Tual, Maluku Tenggara. Tapi karena Persemalra baru saja away melawan
salah satu tim di Jawa, laga yang seharusnya diadakan di Tual
dipindahkan ke Stadion Maguwoharjo, Sleman, dengan perjanjian PSS Sleman
diminta untuk menanggung segala akomodasi Persemalra selama di Sleman,
dan seluruh pemasukan tiket pertandingan masuk ke PSS Sleman. Deal!
Mungkin
kronologi itu malah menimbulkan efek tanya, apakah saya mencintai PSS
karena BCS? Jika dulu saya ditanyai seperti itu, saya akan menjawab iya.
Tapi, coba tanyakan hal itu pada saya sekarang. Saya akan menjawab:
tidak!
Karena
BCS saya mengenal PSS Sleman. Bersama BCS saya belajar mencintai PSS
Sleman, Lama kelamaan saya bersama BCS ditribun selatan, saya semakin
mencintai PSS Sleman. Saya bangga terhadap PSS Sleman, tim lokal dari
daerah kelahiran saya 18 tahun yang lalu.
Bukan
bangga terhadap BCS, tapi kepada PSS Sleman. Karena tujuan saya berada
di barisan tribun selatan adalah untuk mendukung PSS Sleman, bukan hanya
berhura-hura dengan memakai nama BCS. Pernah ada teman yang bertanya,
kamu sekarang jadi BCS? Saya langsung menjawab: Ya, sekarang aku jadi
bagian BCS. kenapa?
Teman saya yang tinggal di tanah Sunda bertanya, apa bagusnya BCS? Saya tertawa sebentar sebelum menjawabnya. Sambil menahan senyuman saya jawab pertanyaan teman saya:
“BCS itu biasa, nggak ada bagusnya. Cuma sekelompok orang yang berdiri sama nyanyi kok, sama bakar-bakar ditribun. Biasa kan?”
Terus kenapa kata orang-orang mereka bagus?
Saya
jawab: kan kata orang itu, Kak. Aku sama temen-temen selama ini nggak
merasa kami bagus, kan yang menilai itu orang lain. Kami cuma
menunjukkan, bahwa kami mencintai PSS Sleman. Caranya? Ya dengan kami
berdiri sama nyanyi buat mereka, itupun bukan cuma asal nyanyi. Kan
kasihan, masa’ punggawa PSS lari-lari, kami yang mengaku sebagai supporter-nya
cuma duduk aja? Tujuan kami ke Maguwoharjo kan untuk mendukung mereka
yang ada dilapangan. Kami itu bukan apa-apa tanpa PSS Sleman. Tanpa PSS,
kami cuma sekelompok orang nggak jelas yang nyanyi-nyanyi sama
bakar-bakar. Kami nggak akan ada tanpa PSS Sleman, Kak.
Teman saya bertanya lagi, emang kalau kamu dukung kayak gitu, sampai rela kepanasan, kehujanan, jauh, uang kamu habis, apa yang kamu dapet, Dek?
Yang
aku dapet itu kepuasan, Kak. Puas bisa liat orang yang aku cinta, bisa
support, seneng gitu rasanya. Kakak pasti pernah jatuh cinta? Kan kalau
orang jatuh cinta itu rasanya pengen ketemu terus, apa aja dilakuin buat
dia. Nah, aku juga gitu ke PSS Sleman.
Itu
hanya salah seorang teman yang bertanya. Mereka heran atas perubahan
saya yang awalnya hanya seorang gadis biasa dan sekarang telah menjadi
seorang supporter sebuah tim bola, yang bahkan namanya tidak
bergaung di TV-TV. Hanya sebuah tim kecil dari daerah di bagian utara
Daerah Istimewa Yogyakarta, yang tidak pernah disorot lampu kamera,
tidak disaksikan ratusan juta pasang mata dari layar kaca, hanya
disaksikan segelintir orang secara langsung di Stadion Maguwoharjo.
Tapi,
klub kecil ini adalah cintaku. PSS Sleman, tim bola dari Sleman, yang
dinikmati oleh publik Sleman dan akan selalu dijaga kepakan sayapnya
untuk terus terbang tinggi, hingga suatu saat nanti yang saya juga tidak
tahu kapan, tim kecil ini akan menempati kasta tertinggi sepakbola
Indonesia. Forza Sleman!
Lainkali biodata timnas angkasa yaaa wkwkwk
BalasHapusoke boleh terimakasih atas saran yang anda saran kan
HapusAle 🍀
BalasHapusTingkatkan kak
BalasHapus👌👌👌
BalasHapus👍👍
BalasHapus👍👍
BalasHapus👌👌👌
BalasHapus